Golovinamari.com – Kepergian Zaini Abdullah, mantan Gubernur Aceh yang menjabat dari 2012 hingga 2026, menandai hilangnya sosok penting bagi masyarakat Bumi Serambi Mekah. Zaini, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Doto, dikenang sebagai simbol ketenangan dan kesederhanaan, yang dedikasinya berkontribusi pada stabilitas di provinsi tersebut.
Pada Sabtu, 13 Juni, proses pemakaman Abu Doto berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, dihadiri oleh puluhan ribu pelayat. Acara ini melibatkan berbagai kalangan, termasuk pejabat, ulama, dan masyarakat umum, yang berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. Masyarakat rela menunggu berjam-jam demi melaksanakan salat jenazah sebagai bukti kecintaan terhadap sosok yang telah berkontribusi pada perdamaian di Aceh.
Setelah prosesi di Banda Aceh, jenazah dibawa ke kampung halamannya di Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Di sana, gelombang pelayat kembali membanjiri rumah masa kecilnya. Meskipun telah disalatkan di Banda Aceh, permintaan warga dan kerabat memicu dilaksanakannya salat jenazah kedua di Masjid Teureubue pada malam hari.
Masyarakat setempat, termasuk tokoh seperti Mirza Marjaya, menegaskan rasa kehilangan yang mendalam terhadap Zaini Abdullah. Dia dianggap sebagai tokoh kunci dalam upaya perdamaian di Aceh. Kegiatan pemakaman diakhiri dengan pemakaman di kompleks Pesantren Terpadu Hafidh Quran, yang terletak di dekat makam ayahnya. Posisi makam Abu Doto menggambarkan kembali ke akar budaya dan tradisi, menunjukkan bahwa meskipun berkiprah di kancah internasional, dia tetap setia kepada tempat asalnya.