Golovinamari.com – Sejarah kiswah Kakbah, kain penutup yang ikonik di Tanah Suci, menarik perhatian banyak umat Muslim, terutama pada musim haji. Kiswah dipercayai sudah ada sejak zaman Nabi Ismail AS, meski tidak ada catatan spesifik mengenai bahan dan warnanya. Menurut Ustaz Miftah el-Banjary, informasi tentang kiswah mulai jelas ketika Raja Himyar As’ad Abu Bakr dari Yaman memerintahkan pemasangan kiswah dengan kain tenun, meneruskan tradisi yang telah ada.
Penggantian kiswah menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy di masa Qusay ibnu Kilab, leluhur Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad sendiri berperan dalam memerintahkan pembuatan kiswah dari kain Yaman. Pada masa Khulafa al-Rasyidin, juga terdapat perintah untuk membuat kiswah dari benang kapas.
Kiswah terdiri dari lima bagian: empat sisi dan tirai pintu, dan terbuat dari sutra yang diimpor, membutuhkan lebih dari 600 kilogram sutra murni. Kiswah di zaman Nabi Ismail dikenal berbahan belundru, sedangkan pada era Kekhalifahan Abbasiyah, bahan yang digunakan adalah kain sutra Khuz. Dalam periode Turki Utsmani, kiswah diimpor dari Istanbul.
Kini, kiswah dirancang di Makkah oleh lebih dari 200 pengrajin lokal di pabrik kerajaan di Al Joud. Ketinggian kiswah ini mencapai 14 meter dengan lebar 47 meter, dan bagian atasnya dihiasi benang perak berlapis emas seberat 130 kilogram. Setiap tahun, kiswah diganti, biasanya berlangsung pada bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan haji. Penggantian ini menjadi momen signifikan bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah haji.