10 april 2026 – Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menilai proyeksi Bank Dunia yang memangkas pertumbuhan ekonomi RI menjadi 4,7 persen pada 2026 terlalu rendah. Pernyataan itu muncul setelah lembaga tersebut menilai tekanan harga minyak dan kehati-hatian investor akan menahan laju ekonomi nasional. Purbaya menyebut hitungan itu tidak mencerminkan kondisi domestik secara utuh dan berisiko membentuk sentimen negatif di pasar.
Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia menilai tekanan utama bagi Indonesia pada 2026 datang dari kenaikan harga minyak, kebutuhan subsidi dan kompensasi energi, serta sentimen pasar yang dapat menekan investasi dan konsumsi. Meski begitu, lembaga itu juga mencatat adanya penopang dari pendapatan komoditas, investasi yang dipimpin pemerintah, kredit swasta, dan langkah debottlenecking untuk menarik penanaman modal. Perbedaan pembacaan ini memperlihatkan kontras antara proyeksi global yang lebih berhati-hati dan keyakinan pemerintah terhadap pemulihan domestik.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Keuangan menegaskan fondasi fiskal masih terjaga. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun, sementara penerimaan pajak tumbuh 20,7 persen. Pemerintah juga menyatakan defisit APBN 2026 tetap dijaga di kisaran 2,9 persen dan memiliki bantalan fiskal berupa saldo anggaran lebih sebesar Rp420 triliun untuk menghadapi tekanan lebih besar, termasuk bila harga minyak bertahan tinggi.
Sikap Purbaya menunjukkan pemerintah sedang berupaya menjaga kepercayaan dunia usaha di tengah gejolak eksternal. Alih-alih hanya membantah proyeksi lembaga global, pemerintah menekankan ruang fiskal, percepatan belanja, serta stabilitas harga energi sebagai penyangga utama pertumbuhan 2026. Di tengah perbedaan proyeksi itu, arah kebijakan fiskal menjadi faktor yang akan paling menentukan pembacaan pasar terhadap ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan mendatang. kumparan