Golovinamari.com – Istilah “uke” menjadi semakin dikenal dalam ranah budaya populer Jepang, terutama di kalangan penggemar anime, manga, dan fanfiction. Uke, yang berasal dari bahasa Jepang dan berarti “menerima”, merujuk kepada karakter yang memegang peran sebagai ‘penerima’ dalam hubungan, baik dalam konteks seni bela diri maupun hubungan romantis fiksi.
Secara etimologis, istilah ini berakar dari praktik seni bela diri Jepang seperti Judo dan Aikido, di mana uke adalah individu yang menerima teknik dari lawan untuk melatih keterampilan. Dalam dunia fiksi, pengartian ini mengalami transformasi, di mana uke menjadi karakter yang cenderung lebih pasif, seringkali dihadapkan pada dinamika emosional dan fisik dengan pasangannya, yang disebut seme.
Seme, berasal dari kata “semeru” yang berarti ‘menyerang’, menggambarkan karakter dominan dalam hubungan, sering kali berperan sebagai inisiator. Perbedaan mendasar antara uke dan seme terletak pada dinamika kepemimpinan dan ketergantungan dalam hubungan tidak hanya di fiksi tetapi juga di representasi karakter.
Belakangan, ada pula istilah “seke”, yang menggambarkan karakter fleksibel yang bisa berperan sebagai uke atau seme, menggambarkan hubungan yang lebih seimbang. Evolusi penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa batasan antara uke dan seme mulai kabur, mencerminkan perubahan dalam representasi karakter di era saat ini.
Memahami konten dari istilah uke dan seme sangat penting untuk mengapresiasi kompleksitas hubungan dalam karya-karya fiksi Jepang, di mana karakteristik fisik dan kepribadian tidak lagi terikat pada stereotip kaku. Sehingga, istilah ini tidak hanya pas untuk mengartikan peran dalam narasi tetapi juga menggambarkan sisi penerima dalam interaksi sosial yang lebih luas.