Golovinamari.com – Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi sorotan jelang penghujung Bulan Safar, khususnya di Pulau Jawa. Banyak masyarakat Muslim mengisi hari Rabu terakhir bulan ini dengan salat sunnah, doa bersama, dan amalan lainnya yang dianggap sebagai upaya untuk memohon perlindungan dari berbagai musibah dan bala.
Rebo Wekasan, yang berarti Rabu terakhir pada Bulan Safar, memiliki akar tradisi yang dalam di masyarakat. Menurut kalender Hijriyah, tahun ini, 1 Safar 1448 jatuh pada 16 Juli 2026, dan penutupan bulan tersebut terjadi pada 13 Agustus 2026. Dalam momen ini, berbagai ritual keagamaan dan doa bersama dilaksanakan oleh sekelompok umat Islam.
Beberapa ulama dan ahli makrifat meyakini bahwa pada Rabu terakhir Bulan Safar, Allah SWT menurunkan berbagai bala. Pendapat ini dinyatakan dalam karya Abdul Hamid Quds, yang menyebutkan bahwa hari tersebut menjadi momen turunnya sekitar 320.000 musibah. Untuk itu, banyak orang melakukan salat sunnah empat rakaat dan membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an, diikuti dengan doa memohon perlindungan agar terhindar dari bencana selama setahun ke depan.
Namun, keyakinan ini tidak diterima secara universal di kalangan ulama. Dalam perspektif Islam yang lebih luas, Bulan Safar sama sekali tidak memiliki sifat membawa kesialan. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah, tanpa membawa nasib baik atau buruk.
Dengan latar belakang inilah, tradisi Rebo Wekasan tetap diingat dan dilaksanakan oleh masyarakat, meskipun dengan pemahaman yang beragam mengenai makna dan tata cara pelaksanaannya.