14 april 2026 – Prediksi hujan dasarian kembali menjadi sorotan pada pertengahan April 2026. BMKG menjelaskan dasarian adalah rentang waktu 10 hari, dan untuk Dasarian II April atau 11-20 April, prakiraan hujan menunjukkan kecenderungan lebih rendah di banyak wilayah. Pola itu sejalan dengan prediksi BMKG bahwa musim kemarau 2026 mulai berlangsung bertahap pada April hingga Juni.
BMKG mencatat pada Dasarian II April 2026, sebanyak 42,81 persen wilayah diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal. Sementara itu, 30,64 persen wilayah diprakirakan berada pada kategori curah hujan rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian. Sebaran area dengan kecenderungan hujan minim muncul antara lain di Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Bali.
Dalam analisis dinamika atmosfer terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian II April 2026. Status waspada berlaku di beberapa kabupaten di Aceh, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah, sedangkan status siaga muncul di sebagian Aceh. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan musim kemarau 2026 diprakirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang sehingga langkah antisipatif perlu diperkuat sejak awal.
Sebelumnya, BMKG memprediksi mayoritas wilayah Indonesia mulai masuk musim kemarau pada April hingga Juni 2026, dengan 64,5 persen zona musim diperkirakan mengalami curah hujan bawah normal dan puncak kemarau dominan terjadi pada Agustus. Plh. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Adenan Rasyid, menyebut kondisi itu perlu direspons melalui koordinasi lintas sektor, pengelolaan waduk dan irigasi, serta kesiapan daerah menjaga pasokan air saat curah hujan terus melemah. Langkah itu dinilai penting untuk menekan risiko gangguan air baku, pertanian, dan kebakaran lahan.