Golovinamari.com – Produksi uranium global sangat terpusat, dengan tiga negara teratas yang menguasai sekitar 75% dari total produksi dunia. Total produksi uranium dunia mencapai 60.213 ton, memenuhi sekitar 90% kebutuhan energi dari pembangkit listrik nuklir di seluruh dunia. Mayoritas pasokan ini diperoleh melalui metode In-Situ Recovery (ISR), yang merupakan teknik ekstraksi kimiawi efisien dan ramah biaya, berkontribusi lebih dari 55% terhadap total produksi.
Kazakhstan dan Uzbekistan menonjol sebagai pemimpin pasar global dengan biaya produksi yang rendah. Guna mengurangi ketergantungan pada ketiga negara dominan ini, beberapa negara Barat, termasuk Kanada, secara aktif berusaha membangkitkan kembali industri nuklir domestik mereka. Dalam dua tahun terakhir, produksi uranium Kanada meningkat pesat dari 7.300 ton di tahun 2022 menjadi lebih dari 14.000 ton pada 2024, berkat kebangkitan operasional di tambang besar seperti McArthur River dan Key Lake.
Permintaan energi global diprediksi akan meningkat hingga 50% pada tahun 2050. Dengan fokus pada energi bersih, industri nuklir modern menarik perhatian, di mana perusahaan-perusahaan besar secara agresif mengejar akses pada pembangkit listrik tanpa emisi. Misalnya, NextEra Energy melakukan akuisisi Dominion Energy senilai USD 66,8 miliar untuk memperkuat posisinya di pasar pusat data di Virginia.
Sementara itu, industri juga beralih ke penggunaan Reaktor Modular Kecil dan teknologi reaktor canggih lainnya. Meningkatnya perhatian terhadap inovasi dalam sektor ini mencerminkan usaha dunia untuk menjawab tantangan energi di masa depan dengan memperkuat kapasitas produksi uranium secara global.