Golovinamari.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah mempersiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghadapi fenomena El Nino, yang diprediksi akan menyebabkan kemarau ekstrem di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa OMC telah berkembang pesat dan kini berfungsi sebagai protokol untuk meningkatkan curah hujan serta memastikan pasokan air di area-area yang terdampak.
Hanif menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kanal sepanjang hampir 600.000 kilometer. Langkah tersebut melibatkan penutupan kanal di area tertentu menggunakan beragam teknologi untuk menjaga ketahanan air. Tindakan ini bertujuan agar daerah-daerah yang berisiko mengalami kekeringan atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap terjaga persediaan airnya.
Dalam upaya memperkuat strategi ini, KLH juga berfokus pada pengembangan desa mandiri yang peduli terhadap lahan gambut. Salah satu strategi utama adalah memantau ketinggian muka air di lahan gambut. Kontrol ini akan diaktifkan ketika ketinggian air berada di bawah 80 cm, di mana pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan segera melaksanakan OMC.
Menteri Hanif menegaskan bahwa kemarau panjang ini, yang berlangsung dari April hingga November 2026, diperkirakan akan menciptakan kondisi curah hujan terendah dalam 30 tahun terakhir. Dengan rata-rata curah hujan bulanan yang diprediksi kurang dari 100 mm, tantangan kelangkaan air tanah dan gambut harus menjadi perhatian serius.
Menteri LH menyoroti tiga kondisi krusial yang perlu dicermati: kemarau panjang, curah hujan terendah dalam tiga dekade, dan risiko kekeringan lahan. Upaya penanggulangan ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat fenomena ini.