Golovinamari.com – Dalam situasi kebuntuan pasokan energi global, blokade Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran, sementara Uni Emirat Arab (UEA) melakukan operasi rahasia yang berisiko. UEA memanfaatkan apa yang disebut sebagai “tanker hantu”, yaitu kapal yang berlayar tanpa sistem pelacakan untuk menyelundupkan minyak mentah dari Teluk. Langkah ini diambil untuk menghindari serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran.
Tindakan nekat ini muncul setelah Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi dunia, hampir sepenuhnya dikuasai oleh Iran. Sementara negara-negara penghasil minyak seperti Irak dan Kuwait memilih menghentikan penjualan, UEA berusaha menjaga aliran minyak untuk konsumen di Asia.
Pada bulan April, data satelit menunjukkan bahwa setidaknya empat kapal tanker besar berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan menonaktifkan sistem identifikasi otomatis (AIS), sehingga tidak terdeteksi oleh radar Iran. Ironisnya, metode ini sebelumnya merupakan taktik yang digunakan Iran untuk menghindari sanksi Amerika Serikat.
Operasi tersebut meliputi pemindahan muatan minyak di tengah laut, di luar zona konflik, yang dikenal sebagai pemindahan Ship-to-Ship. Minyak yang diangkut oleh tanker hantu ini kemudian dialihkan ke kapal lain, yang selanjutnya membawanya ke kilang di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Korea Selatan.
Menurut sumber, kargo minyak mentah Upper Zakum milik Abu Dhabi berhasil terjual ke pabrik-pabrik Asia Timur dengan harga yang tinggi, mencapai premium USD20 per barel di atas harga resmi. Meskipun risikonya tinggi, tindakan ini menunjukkan strategi berani UEA untuk mempertahankan posisinya dalam pasar minyak global.