Golovinamari.com – Pulau Enggano menarik perhatian publik setelah penemuan jenazah Surakman, salah seorang kru kapal KM Arupadatu I, yang hilang kontak bersama rombongan jurnalis di Selat Sunda. Jenazah Surakman, berusia 60 tahun, ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, pada 12 September 2026. Proses identifikasi dilakukan dengan pencocokan DNA oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri.
Penemuan ini menjadi sorotan karena jarak Pulau Enggano dari titik terakhir yang terdeteksi kapal sekitar 345 kilometer di dekat Pulau Sebesi. Pulau Enggano secara administratif berada dalam Kabupaten Bengkulu Utara dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia, terletak di Samudra Hindia sebelah barat daya Sumatera. Dengan luas sekitar 397,2 kilometer persegi, Enggano memiliki akses yang terbatas menuju daratan utama, berjarak sekitar 120 kilometer dari pantai Provinsi Bengkulu.
KM Arupadatu I mengangkut lima jurnalis beserta kru saat berangkat dari Carita, Pandeglang, pada 7 September 2026, untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal tersebut dilaporkan hilang kontak dan operasi pencarian berlangsung selama 10 hari di perairan Selat Sunda, yang akhirnya dihentikan pada 18 September tanpa menemukan korban lainnya.
Setelah ditemukan, jenazah Surakman dievakuasi ke Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada 24 September, jenazah tersebut diberangkatkan menuju Jakarta untuk diserahkan kepada keluarga di Pandeglang. Penemuan ini penting dalam konteks pencarian yang lebih luas terkait hilangnya KM Arupadatu I, dan posisi geografis Pulau Enggano kini menjadi bagian integral dalam penyelidikan kasus tersebut.