Golovinamari.com – Kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Kalimantan Selatan. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 11.669,8 hektare lahan pertanian terpaksa mengalami kekeringan, dengan 4.884 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen.
Masalah ini muncul di tengah intensitas cuaca yang tidak menentu dan rendahnya curah hujan yang terjadi di wilayah tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa kondisi ini diperparah oleh adanya praktik pembakaran lahan yang tidak terkendali, yang berdampak pada kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Para petani setempat mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait potensi kerugian besar yang akan mereka alami jika situasi ini berlanjut.
Sejumlah langkah telah diambil oleh pemerintah daerah untuk menangani masalah ini. Dinas Pertanian setempat berupaya memberikan bantuan berupa teknologi penanganan kekeringan serta pelatihan bagi para petani mengenai cara bertani yang lebih efektif dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, dukungan infrastruktur dan bantuan langsung tetap menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan lahan yang terancam.
Kondisi ini bukan hanya berdampak pada petani, tetapi juga berisiko meningkatkan harga pangan di pasaran. Dengan meningkatnya jumlah lahan yang terancam gagal panen, konsumen di Kalimantan Selatan dan sekitarnya berpeluang untuk merasakan dampak dari krisis ini. Kebijakan yang lebih matang dan kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga lingkungan menjadi urgent dalam situasi ini.