Golovinamari.com – Harga minyak dunia diperkirakan akan tetap di atas USD100 per barel dalam beberapa tahun mendatang, seiring berlanjutnya krisis di Selat Hormuz yang berdampak pada pasokan global. Analis memperingatkan bahwa situasi ini dapat menciptakan ketidakpastian berkepanjangan di pasar energi dunia.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan bahwa jika kondisi tidak membaik, wilayah pasar energi mungkin akan memasuki fase kritis pada bulan Juli atau Agustus mendatang. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam terhadap potensi dampak terhadap pasokan minyak global.
Walaupun harga minyak sempat merosot di bawah USD100 per barel pada awal pekan, berkat adanya tanda-tanda kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, efek tersebut tidak bertahan lama. Pasar masih diliputi kecemasan mengenai gangguan pasokan yang berkelanjutan. Saat ini, harga minyak mentah Brent diperdagangkan antara USD106 hingga USD108 per barel. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan puncak konflik yang mencapai USD126, tetapi masih sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan dengan level sebelum konflik yang berada di kisaran USD70.
Menurut proyeksi dari firma investasi Goehring & Rozencwajg, gangguan pasokan bisa jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, dengan sekitar 15 juta barel per hari yang tetap terhambat, jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan krisis minyak sebelumnya. Penetapan harga ini menunjukkan adanya tantangan serius yang akan dihadapi pasar energi global ke depan, di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.