Golovinamari.com – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan peringatan mengenai risiko pembatasan izin oleh Israel terhadap organisasi-organisasi internasional yang menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya pada Minggu (11/1), Direktur Komunikasi UNRWA, Jonathan Fowler, menegaskan bahwa kawasan tersebut sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan yang lebih besar, bukan penghambatan yang dapat menggangu operasional para relawan.
Pada bulan Desember 2025, Israel memutuskan untuk mencabut izin operasional yang dimiliki oleh puluhan organisasi internasional, memaksa mereka untuk menghentikan kegiatan di Gaza paling lambat Maret mendatang. Meski ada perjanjian gencatan senjata, Fowler menekankan bahwa situasi di Gaza tetap kritis dengan tingginya angka kematian dan bantuan yang sangat kurang.
Lebih lanjut, Fowler juga menyebutkan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza semakin diperparah oleh badai musim dingin serta meningkatnya kasus penyakit pernapasan yang terkait dengan perubahan cuaca. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terkena dampak, dengan angka kehilangan anggota tubuh di kalangan anak-anak di daerah tersebut menjadi yang tertinggi di dunia.
Sejak Oktober 2023, UNRWA terus menyediakan layanan pendidikan dan dukungan psikososial, namun bantuan ini dinilai masih kurang untuk mengatasi masalah jangka panjang yang disebabkan oleh konflik. Fowler menyerukan agar hukum internasional dipatuhi dan meminta Israel untuk memfasilitasi kegiatan kemanusiaan di Gaza, menekankan bahwa wilayah tersebut adalah bagian dari Palestina yang diduduki, bukan wilayah Israel.
Fowler menutup pernyataannya dengan menekankan perlunya peningkatan bantuan kemanusiaan di Gaza, khususnya di saat harapan baru muncul dengan dimulainya gencatan senjata.