Golovinamari.com – Fenomena media sosial (medsos) kini semakin beragam, tidak hanya menjadi tempat bagi individu untuk curhat atau mengungkap aib, namun juga berfungsi sebagai ajang pamer amal. Meskipun banyak yang menganggap tindakan ini sebagai sekadar pembaruan status atau untuk bersenang-senang, perbuatan yang dilakukan secara masif seringkali tidak disadari berpotensi mengarah pada riya’ dan sum’ah.
Riya’ adalah tindakan memperlihatkan amal, sedangkan sum’ah berarti memperdengarkan amal yang dilakukan. Keduanya tergolong dalam syirik kecil, di mana niat awal beramal karena Allah bisa tergantikan oleh harapan untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain. Hal ini menjadi masalah yang diremehkan, khususnya di kalangan umat Muslim.
Sebagai pengingat, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 2-3, menyatakan pentingnya beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan dengan sesuatu apapun. Isi ayat tersebut menekankan bahwa setiap amal seharusnya ditujukan hanya kepada Allah, sehingga segala bentuk amal yang tidak ikhlas akan menjadi sia-sia.
Dalam konteks ini, penting bagi pengguna media sosial untuk berintrospeksi dan menyadari tujuan dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Sebab, meskipun niat awal mungkin baik, pamer amal yang berlebihan dapat mengakibatkan tercampurnya niat dan tujuan amal tersebut.
Mengamati kecenderungan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga niat untuk tetap tulus, sehingga amal yang dilakukan dapat diterima dan diberkahi.