Golovinamari.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengemuka kembali dalam upaya perdamaian yang digelar di Swiss. Presiden AS, Donald Trump, dan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, saling mengancam dalam dialog ini yang merupakan langkah lanjutan pasca-perjanjian awal untuk mengakhiri konflik.
Dalam pertemuan tersebut, Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika negara tersebut tidak dapat mengendalikan kelompok Hizbullah di Libanon, yang saat ini sedang terlibat dalam bentrokan dengan pasukan Israel. Ghalibaf, merespons dengan tegas, menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran siap menghadapi segala bentuk konfrontasi. Ia menyoroti bahwa ancaman AS menunjukkan ketidakberdayaan mereka dalam situasi ini.
Trump, melalui media sosial, menyatakan bahwa Iran harus segera menghentikan kelompok proksi mereka di Libanon untuk menghindari masalah lebih lanjut. Ia menegaskan akan memberikan respons keras jika ancaman ini tidak diindahkan. Meskipun protes ini menciptakan ketegangan, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan harapan Trump untuk membuka lembaran baru dalam hubungan bilateral antara kedua negara.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh menteri luar negeri dari kedua negara serta perdana menteri dari Pakistan dan Qatar sebagai mediator. Meskipun telah ada kesepakatan awal yang mencakup penghentian pertempuran dan pembukaan Selat Hormuz, implementasinya masih terhambat oleh konflik yang terus berlanjut di wilayah tersebut. Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan puluhan korban jiwa akibat serangan udara Israel, yang menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomatik, situasi di lapangan tetap memanas.