Golovinamari.com – Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, di bawah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memperingatkan potensi fenomena El Nino yang kuat, yang diprediksi akan menyebabkan kemarau lebih kering di wilayah D.I. Yogyakarta. Prediksi ini diungkapkan pada 31 Juli 2026 oleh Kepala Stasiun Klimatologi, Dr. Mamenun, S.Si, M.Si.
Menurut BMKG, tingkat curah hujan di D.I. Yogyakarta diperkirakan akan rendah selama periode Agustus hingga Oktober 2026, dengan rata-rata antara 0 hingga 20 mm per bulan. Puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada bulan Agustus 2026 dengan curah hujan total berkisar antara 250 hingga 400 mm, dan kemarau baru diperkirakan berakhir pada awal November 2026.
Dalam menghadapi potensi dampak dari fenomena iklim ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kekeringan meteorologis. Mamenun menekankan pentingnya tindakan preventif untuk menghadapi ancaman seperti berkurangnya ketersediaan air bersih dan kebakaran lahan.
Sejumlah sektor, khususnya pertanian, diingatkan akan kerentanan terhadap penurunan curah hujan dan durasi kemarau yang panjang. BMKG merespon dengan menyarankan perlunya strategi pertanian yang efektif untuk mencegah kerugian.
BMKG juga mencatat bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan aktifnya Monsun Australia dengan dominasi angin dari timur, serta indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang berada pada kondisi moderat, berpotensi meningkat menjadi kategori kuat. Masyarakat disarankan untuk terus memantau informasi iklim melalui saluran resmi BMKG guna mengantisipasi perubahan cuaca secara efektif.