Golovinamari.com – Mars, yang dikenal sebagai Planet Merah, telah menjadi objek perhatian sejak zaman kuno. Nama tersebut diberikan oleh bangsa Romawi yang mengaitkannya dengan dewa perang, karena warnanya yang mirip dengan darah. Meski dikenal sebagai planet merah, penjelasan ilmiah mengenai warna Mars menunjukkan bahwa warna kemerahan tersebut dihasilkan oleh besi oksida, senyawa yang membuat batuan dan debu di permukaan planet tampak merah-oranye saat terkena cahaya Matahari.
Fenomena warna ini berakar dari sifat fisik besi yang berikatan dengan oksigen, sebagaimana darah manusia yang juga berwarna merah. Namun, saat diamati dari dekat, permukaan Mars tidak sepenuhnya merah. Foto-foto dari rover dan wahana antariksa menunjukkan warna dominan cokelat hingga abu-abu. Bahkan, gambar pertama dari pendarat Viking pada 1976 menunjukkan tanah Mars yang tertutup debu berwarna oranye karat, yang bervariasi tergantung wilayah dan komposisi mineralnya.
Selain itu, pola warna di Mars sangat beragam. Di kutubnya, terdapat tudung es berwarna putih yang terbuat dari air beku dan karbon dioksida beku. Proses alami ini membuat ukuran tudung es berubah seiring pergantian musim. Mars juga memancarkan cahaya dalam spektrum inframerah dan ultraviolet. Dengan menggunakan kamera khusus, ilmuwan dapat memetakan komposisi dan struktur permukaan Mars melalui warna semu, meskipun warna ini tidak merepresentasikan warna asli planet tersebut.
Penelitian tentang Mars terus berkembang, dengan misi seperti MAVEN yang diluncurkan pada tahun 2013. Wahana tersebut memperoleh data penting mengenai atmosfer Mars dan bagaimana planet itu kehilangan atmosfer dari waktu ke waktu. Dalam upaya memahami sejarahnya, astronom menggunakan berbagai spektrum elektromagnetik, dari gelombang radio hingga sinar gamma, untuk mengumpulkan informasi terkait geologi dan kemungkinan adanya air di masa lalu.