Golovinamari.com – Derby Manchester yang dijadwalkan pada Sabtu (17/1/2026) pukul 19.30 WIB bukan hanya sekadar perebutan tiga poin bagi Manchester United. Pertandingan ini merupakan ujian harga diri bagi tim besutan Michael Carrick setelah mengalami kekalahan telak 0-3 di pertemuan pertama musim ini. Di sisi lain, Manchester City memerlukan kemenangan untuk tetap menempel Arsenal di puncak klasemen Liga Primer Inggris.
Dalam analisis pertandingan, pertarungan antara tim asuhan Sir Alex Ferguson dari tahun 1999 dan Pep Guardiola dari tahun 2023 menampilkan perbedaan filosofi sepak bola yang signifikan. Di lini belakang, United 1999 mengandalkan ketangguhan Peter Schmeichel dan Jaap Stam, yang menghadirkan intimidasi bagi lawan. Sementara itu, City 2023 memperkenalkan Ederson dan Ruben Dias dalam sistem permainan yang lebih cair dan terstruktur.
Dalam lini tengah, duel Roy Keane dan Rodri menjadi sorotan. Keane dikenal sebagai penggerak tanpa henti, sedangkan Rodri berfungsi sebagai pengatur tempo permainan. Pada posisi sayap, perbedaan mencolok terlihat antara peran klasik David Beckham dan Ryan Giggs di tahun 1999 serta Kevin De Bruyne dan Bernardo Silva di tahun 2023, yang beroperasi di area yang lebih fleksibel.
Sementara dalam lini serang, United 1999 diwakili oleh duet maut Andy Cole dan Dwight Yorke. Di sisi lain, City 2023 memiliki Erling Haaland, seorang striker produktif yang telah berhasil mencetak banyak gol.
Dengan Manchester City yang diunggulkan secara statistik, Erling Haaland akan menjadi ancaman bagi pertahanan United, yang kemungkinan dijaga oleh Lisandro Martinez dan Matthijs de Ligt. Pertandingan ini akan menguji apakah filosofi “United Way” di bawah Carrick mampu meredam ambisi Pep Guardiola.