Golovinamari.com – Kanker paru-paru kini bukan hanya ancaman bagi perokok aktif, melainkan juga bagi nonperokok, terutama di kalangan individu produktif. Dalam media briefing yang berlangsung di Jakarta pada 26 Februari, Dr. Tanujaa Rajasekaran, Konsultan Senior Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, menjelaskan bahwa kanker paru-paru merupakan jenis kanker paling umum kedua di antara pria dan wanita. Data menunjukkan bahwa di kalangan pria, kanker paru-paru menempati posisi teratas, sedangkan di kalangan wanita, berada di peringkat kelima.
Satu dari sepuluh pasien perokok didiagnosis dengan kanker paru-paru sel kecil, sementara 90% lainnya, mayoritas merupakan nonperokok, mengidap jenis nonsel kecil. Penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kanker paru pada nonperokok, namun diduga berkaitan dengan mutasi sel yang tidak terkontrol. Penyebab lain melibatkan faktor usia, penurunan fungsi sel, dan paparan lingkungan yang merugikan.
Kanker paru-paru menghadapi tantangan serius dalam hal deteksi, karena sering kali terdiagnosis pada stadium lanjut, mengakibatkan angka kematian yang tinggi. Gejala yang perlu diwaspadai termasuk rasa lelah yang berlebih, nyeri dada, batuk berkepanjangan, dan penurunan berat badan yang drastis. Jika tidak terdeteksi lebih awal, harapan hidup pasien berkurang drastis dari 90% di stadium awal menjadi sekitar 20% pada stadium akhir.
Oleh karena itu, Dr. Tanujaa menggarisbawahi pentingnya skrining dini, terutama bagi individu dengan riwayat keluarga kanker paru atau mengalami gejala tertentu. Melalui tindakan pencegahan seperti CT Scan dosis rendah, tingkat kematian akibat kanker paru dapat ditekan hingga 20%, membuka peluang kesembuhan yang lebih besar bagi pasien.