Golovinamari.com – Perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif menunjukkan adanya peningkatan persepsi risiko yang mengganggu kepercayaan investor, meskipun fundamental ekonomi negara masih dianggap kuat. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa indikator utama perekonomian, seperti pertumbuhan sekitar 5% dan inflasi yang sesuai target, menunjukkan kondisi yang cukup stabil.
Rizal menekankan bahwa kekhawatiran global tidak berfokus pada kinerja jangka pendek tetapi lebih pada kredibilitas kebijakan fiskal dan kualitas pengelolaan anggaran di masa mendatang. Investor kini skeptis terhadap arah kebijakan yang diambil pemerintah, termasuk pengelolaan utang dan tata kelola pasar keuangan.
Dampak dari perubahan outlook dan sentimen negatif ini tercermin dalam biaya pendanaan yang meningkat. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun melonjak ke kisaran 6,7%-7%, yang diiringi oleh meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah. Rizal menjelaskan bahwa kenaikan biaya utang dapat berimbas pada meningkatnya bunga kredit, yang berpotensi menghambat investasi swasta.
Di tengah ketidakpastian ini, Rizal menekankan pentingnya pemerintah untuk memulihkan kepercayaan pasar. Ia mengusulkan agar pemerintah menjaga disiplin fiskal, memperjelas prioritas belanja, dan memperkuat kepastian regulasi serta tata kelola pasar keuangan. Meskipun Indonesia masih dianggap menarik bagi investor, ketidakpastian kebijakan dapat membuat mereka cenderung menunggu dan melihat.
Rizal menyimpulkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatkan kepercayaan antara pemerintah dan pelaku pasar, yang lebih penting daripada sekadar menambah stimulus fiskal.