Golovinamari.com – Istilah “Londo Ireng” kembali mencuat dalam pembicaraan publik setelah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, pada 23 Juli 2026. Dalam pernyataannya, Prabowo mengungkapkan bahwa masih terdapat individu Indonesia yang dianggap lebih setia kepada kepentingan asing, dan menyebut mereka dengan istilah tersebut. Hal ini memicu ketertarikan masyarakat untuk menggali kembali asal-usul istilah ini.
Londo Ireng, yang berasal dari bahasa Jawa, dapat diartikan sebagai “Londo” yang berarti Belanda, dan “Ireng” yang berarti hitam. Istilah ini muncul pada masa penjajahan Belanda, di mana para penjajah berkulit putih dan berambut terang, sementara Londo Ireng merujuk pada orang-orang berkulit gelap yang dianggap sebagai pengikut atau antek-antek Belanda.
Menurut catatan sejarah, Londo Ireng atau Zwarte Hollanders merupakan sebutan bagi orang Afrika yang direkrut untuk bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger / KNIL). Dalam konteks sejarah, mereka banyak direkrut setelah Belanda mengalami kesulitan akibat Perang Jawa yang dipimpin oleh Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro antara tahun 1825 hingga 1830. Perang tersebut menyebabkan kerugian substansial bagi pemerintah kolonial, termasuk hilangnya ribuan tentara.
Reaksi publik terhadap penyebutan istilah ini menunjukkan ketertarikan yang mendalam mengenai sejarah dan identitas yang terkait dengannya, serta menyoroti konteks ketegangan yang masih ada dalam hubungan masyarakat dengan sejarah kolonial. Pembicaraan mengenai Londo Ireng mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam memahami warisan sejarah dan dampaknya terhadap kebangsaan masa kini.