Golovinamari.com – Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung di tiga negara tuan rumah yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, diprediksi akan membawa dampak ekonomi signifikan bagi kota-kota penyelenggara. Namun, berbagai tantangan saat ini dapat mengubah harapan tersebut menjadi kenyataan pahit. Dalam beberapa bulan menjelang pelaksanaan, banyak pertanyaan muncul mengenai realisasi potensi keuntungan yang dijanjikan.
Acara ini, yang diikuti oleh 48 negara, berpotensi mendatangkan turis internasional dalam jumlah besar. Namun, artikel ini mengungkap kekhawatiran terkait kebijakan imigrasi yang ketat, kenaikan harga tiket, dan penurunan pemesanan hotel yang melanda kota-kota di AS dan Kanada. Dalam laporan terbaru, American Hotel and Lodging Association menyebutkan bahwa 80% tingkat pemesanan hotel berada di bawah ekspektasi, sementara banyak pemilik hotel menyebut birokrasi visa dan ketegangan geopolitik sebagai penyebab utama.
Khususnya, banyak turis asing menghadapi kesulitan dalam proses pengajuan visa. Walaupun aturan deposit visa sebesar USD 15.000 telah dicabut, keterlambatan penerbitan visa mengakibatkan sejumlah pengunjung berisiko tidak dapat hadir tepat waktu. Hal ini sangat mengancam kota-kota seperti New York yang menjadi lokasi laga final, di mana tingkat pemesanan hotel hanya mencapai 65% dari target yang ditetapkan.
Dengan adanya situasi ini, dampak negatif pada industri perhotelan mulai terlihat, dan jumlah pengunjung yang diharapkan kemungkinan tidak akan terpenuhi. Untuk itu, berbagai kota menyikapi kondisi ini dengan harapan agar situasi segera membaik menjelang pembukaan turnamen, demi menghindari kerugian yang lebih besar.