Golovinamari.com – Pasar smartwatch di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat di tahun 2026, dengan perangkat yang kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Dari kalangan eksekutif hingga pelajar, jam tangan pintar ini tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi alat untuk memantau kesehatan dan manajemen stres. Misalnya, perangkat seperti Garmin Fenix 8 Pro dan Apple Watch Series 11 menawarkan analisis mendalam tentang kesehatan pengguna, termasuk deteksi risiko kesehatan dan pelacakan kondisi mental.
Dalam konteks ini, Dr. Ressa Uli Patrissia, seorang pemerhati komunikasi dan teknologi dari Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, menjelaskan bahwa smartwatch dapat mengubah cara manusia berinteraksi dengan tubuh dan teknologi. Menurutnya, fenomena ini mencerminkan pemikiran tiga filsuf terkemuka—Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, dan Gilbert Simondon—yang mengungkapkan bahwa teknologi lebih dari sekadar alat; ia membentuk cara kita memahami eksistensi dan hubungan dengan dunia.
Heidegger berpendapat bahwa teknologi modern membingkai realitas sehingga manusia dipandang sebagai sumber daya yang dapat dioptimalkan. Hal ini berisiko menjadikan tubuh hanya sebagai data biometrik yang harus terus dipantau dan diukur. Dengan lebih dari separuh pekerja di Indonesia mengalami burnout, ada kekhawatiran bahwa jam tangan pintar ini justru mendorong budaya kerja yang lebih efisien, mengabaikan hakikat tubuh itu sendiri.
Sementara itu, Merleau-Ponty menekankan pentingnya pengalaman tubuh sebagai medium persepsi. Ia mencatat bahwa tubuh bukan hanya objek pasif, melainkan bagian dari cara kita memahami dunia. Dengan pemikiran ini, penting bagi pengguna untuk mempertahankan kesadaran akan hubungan yang lebih dalam dengan tubuh mereka, bukan hanya dari data yang ditunjukkan oleh smartwatch. Seiring dengan meningkatnya penggunaan perangkat ini, tantangan besar dihadapi untuk menemukan keseimbangan antara teknologi dan pengalaman manusia yang lebih holistik.