Golovinamari.com – Upaya Amerika Serikat mencapai kesepakatan baru dengan Iran kini dinilai lebih sulit dibandingkan satu dekade lalu. Alan Eyre, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, menyatakan bahwa situasi politik telah berubah drastis sejak ditandatanganinya kesepakatan nuklir pada 2015. Dalam wawancara dengan CNN, Eyre mengungkapkan bahwa kepemimpinan Iran saat ini lebih konservatif, menjadikan proses negosiasi menjadi lebih kompleks.
Eyre, yang berperan penting dalam tim negosiasi era Presiden Barack Obama, menjelaskan bahwa pada 2015, Iran memiliki kepemimpinan yang relatif lebih moderat. Saat ini, dengan munculnya kepemimpinan yang lebih garis keras, fokus negosiasi tidak hanya tertuju pada program nuklir, tetapi juga meliputi isu kedaulatan di Selat Hormuz.
Eyre juga menyoroti adanya kesenjangan antara pernyataan publik dan realitas di meja perundingan. Menanggapi pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Iran telah mengingkari janji, Eyre meramalkan hal itu lebih pada komunikasi yang salah daripada fakta yang sesungguhnya. Ia meragukan bahwa Iran akan setuju untuk mengekspor seluruh uranium yang diperkaya tinggi ke AS.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran dan negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengonfirmasikan kesiapan Iran menghadapi skenario apa pun jika negosiasi terhenti. Dalam pernyataannya, Ghalibaf memperingatkan bahwa strategi yang salah dari pihak Barat akan berujung pada kegagalan. Ia menekankan bahwa AS harus menerima hak-hak Iran yang diajukan dalam proposal 14 poin bulan ini, sembari mengingatkan bahwa setiap penundaan akan mengakibatkan biaya yang lebih tinggi bagi pembayar pajak AS.