Golovinamari.com – Dewa United akan menempuh jalur hukum terkait insiden kekerasan yang melibatkan pemainnya dalam pertandingan melawan Bhayangkara FC U-20 di Elite Pro Academy (EPA). Insiden ini terjadi pada Minggu, 19 April 2026, di Stadion Citarum, Semarang. Fadly Alberto, pemain Bhayangkara FC, diduga melakukan tendangan kungfu terhadap salah satu pemain Dewa United, yang langsung memicu reaksi keras dari manajemen klub.
Ardian Satya Negara, Presiden Dewa United, menyatakan bahwa kompetisi usia muda seharusnya menjadi sarana pendidikan, bukan tempat untuk aksi kekerasan. Dia menegaskan akan mengawal masalah ini hingga tuntas. “Seharusnya kompetisi ini bisa menjadi tempat belajar, bukan ajang kekerasan,” ungkap Ardian dalam pernyataan resminya pada Selasa, 21 April.
Di luar itu, Ardian juga mengingatkan bahwa tindakan tidak terpuji ini melibatkan lebih dari sekadar pemain. Dia menyoroti bahwa pelatih juga terlibat dalam insiden kekerasan tersebut. “Akan ada proses hukum bagi semua pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan ini, untuk menjadi contoh bagi yang lain,” tegasnya.
Sementara itu, Sumardji, Chief Operating Officer (COO) Bhayangkara FC, mengakui bahwa tindakan Fadly Alberto sangat disayangkan dan tidak sesuai dengan etika olahraga. Dia menyatakan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk keputusan wasit yang dianggap kurang profesional dan isu rasisme yang beredar di lapangan. “Kecewa dengan insiden ini, yang mestinya tidak terjadi,” katanya.
Dengan situasi yang memanas ini, Dewa United menunjukkan komitmen untuk menangani kasus tersebut secara serius demi keadilan dan keamanan dalam olahraga.