Golovinamari.com – Saif al-Islam Gaddafi, putra terkemuka mendiang pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, dilaporkan meninggal dunia di Zintan, barat Libya. Berita ini disampaikan oleh penasihat politiknya, Abdullah Othman, dan pengacara Khaled el-Zaydi pada Selasa (3/2/2026), meskipun belum ada rincian jelas mengenai penyebab kematiannya.
Kehilangan Saif al-Islam menandai akhir dari ambisi politiknya sebagai calon penerus ayahnya. Sejak pemberontakan 2011, ia tinggal di Zintan, awalnya sebagai tahanan, namun mulai 2017 ia berusaha meraih kembali pengaruh politiknya setelah dinyatakan bebas. Saif sempat dikenal sebagai wajah “progresif” Libya, memainkan peranan penting dalam normalisasi hubungan dengan Barat dan terlibat dalam negosiasi terkait program nuklir Libya serta kompensasi bagi korban pengeboman Lockerbie.
Namun, karier politiknya terganggu ketika situasi di Libya berubah sejak gelombang Arab Spring. Ia tetap setia pada ayahnya dan dituduh melakukan tindakan kekerasan terhadap demonstran, yang mengakibatkan namanya masuk dalam daftar sanksi PBB dan menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Setelah penangkapan oleh milisi Zintan pasca jatuhnya Tripoli, ia dijatuhi hukuman mati secara in absentia, tetapi dibebaskan pada 2017. Saif mengungkapkan keinginannya untuk kembali berpartisipasi dalam politik melalui wawancara dengan The New York Times pada 2021, di mana ia menyatakan perlunya pendekatan hati-hati untuk kembali kepada rakyatnya.
Upaya terakhirnya untuk meraih kekuasaan terjadi pada November 2021 dengan mendaftar sebagai calon presiden di Sebha, meski pemilu tidak terlaksana akibat ketidakpastian politik yang melanda negara tersebut. Kematian Saif al-Islam menimbulkan tanda tanya besar akan masa depan para pendukung rezim Gaddafi dalam usaha merekonsiliasi Libya yang terpecah.