Golovinamari.com – Kisah Virgil van Dijk, kapten Liverpool yang berdarah Indonesia, mencuat setelah keputusannya untuk tidak menggunakan nama ayahnya di punggung jersey. Meskipun memulai karier sepakbolanya di Belanda, namanya semakin terkenal saat memperkuat Celtic FC antara 2013 hingga 2015. Performa mengesankan di klub Skotlandia itu menarik perhatian Southampton, yang kemudian merekrutnya pada Januari 2015.
Bersama Southampton, Van Dijk menunjukkan kualitasnya sehingga menjadi incaran Timnas Belanda. Sejak debutnya pada 10 Oktober 2015, ia telah meraih posisi sentral di lini belakang tim nasional Belanda, menampilkan keahlian yang menjadikannya salah satu bek terbaik dunia. Pada akhir 2017, Liverpool merekrutnya dengan biaya transfer yang mencetak rekor, yakni 85 juta euro, setara dengan sekitar Rp1,6 triliun.
Kariernya di Liverpool menjadi sangat gemilang, di mana ia telah membawa klub meraih sepuluh trofi, termasuk dua gelar Liga Inggris dan satu trofi Liga Champions. Pada usia 34 tahun, Van Dijk tetap menjadi pilar utama tim dan dipercaya sebagai kapten. Dalam formasi yang dipimpin pelatih Arne Slot, ia berkolaborasi dengan Ibrahima Konate di lini pertahanan.
Keputusan Van Dijk untuk tidak memakai nama ayahnya dalam jersey mungkin mencerminkan fokusnya pada pencapaian individu dan kontribusinya di lapangan. Dengan karier cemerlang dan penampilan yang konsisten, Van Dijk terus menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia sepakbola internasional.