Golovinamari.com – Klaim bahwa susu yang dijual di pasaran mengandung bahan berbahaya yang sama dengan racun tikus kini menjadi perbincangan viral di media sosial. Penekanan utama klaim ini terletak pada penggunaan cholecalciferol atau Vitamin D3 dalam susu fortifikasi. Meskipun ada kekhawatiran mengenai hal tersebut, hasil penelusuran menunjukkan bahwa pernyataan ini menyesatkan dan tidak berdasar.
Para ahli menegaskan bahwa dosis adalah faktor kunci dalam keamanan Vitamin D3. David Juurlink, toksikolog medis dari University of Toronto, menjelaskan bahwa kadar Vitamin D3 dalam susu jauh lebih rendah dan aman untuk dikonsumsi manusia. Ia menambahkan bahwa seorang individu harus mengonsumsi setidaknya 30 liter susu dalam sehari untuk mencapai dosis yang dapat dianggap beracun.
Pemahaman yang salah ini mungkin muncul akibat campur aduk informasi mengenai cara kerja Vitamin D3. Racun tikus memang menggunakan Vitamin D3 dalam dosis tinggi untuk meningkatkan kadar kalsium darah hewan pengerat, menyebabkannya mengalami keracunan. Namun, fortifikasi susu bertujuan untuk mengatasi kekurangan vitamin, terutama di daerah yang kurang terpapar sinar matahari.
Hampir 98% susu yang beredar di pasar global difortifikasi dengan Vitamin D sebagai langkah pencegahan penyakit tulang. Di berbagai negara seperti Kanada dan Amerika Serikat, regulasi mewajibkan penambahan Vitamin D dalam susu untuk mendukung kesehatan masyarakat.
Menghadapi narasi yang menimbulkan ketakutan tanpa landasan ilmiah, masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Konsumsi susu fortifikasi tetap aman dan efektif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian, serta mendukung kesehatan tulang.