Site icon golovinamari.com

Pasca Wafatnya Ali Khamenei, Apa Radikalisme Akan Muncul di Teheran?

[original_title]

Golovinamari.com – Kematian Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 menandai terjadinya kekosongan kekuasaan yang signifikan dalam sejarah modern Iran. Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi, memiliki pengaruh besar dalam aspek militer, peradilan, serta kebijakan luar negeri. Profil pengganti Khamenei akan menjadi kunci penentu arah stabilitas atau konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam transisi kekuasaan, sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran, saat ini kekuasaan dipegang oleh dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Peradilan Gholamhossein Mohseni Ejei, dan ulama senior Alireza Arafi. Dewan ini bertugas menjaga stabilitas sampai Dewan Ahli (Assembly of Experts) memilih pemimpin tetap.

Di antara kandidat pengganti, Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei, dikenal dekat dengan Garda Revolusi dan sering dianggap mewakili kepentingan militer. Namun, ia menghadapi tantangan stigma “kepemimpinan turun-temurun” yang tidak disukai pasca-Revolusi 1979. Di sisi lain, Alireza Arafi mewakili faksi ulama tradisional yang memiliki basis legitimasi keagamaan yang kuat, menjadikannya kandidat yang lebih aman bagi kalangan senior lainnya.

Kekhawatiran radikalisme pasca-Khamenei mencuat, di mana ada anggapan bahwa pemimpin baru mungkin akan mengadopsi retorika keras untuk memperkuat posisinya. Dalam situasi tekanan eksternal, sikap kompromis dapat dipandang sebagai kelemahan. Menghadapi tantangan ekonomi, pemimpin baru harus menyikapi realitas fluktuasi harga minyak dan dampak sanksi terhadap stabilitas domestik. Kegagalan untuk memperhatikan tuntutan generasi muda yang semakin vokal bisa berujung pada ketidakpuasan sosial dan potensi konflik di dalam negeri.

Exit mobile version