Golovinamari.com – Situasi di Iran belakangan ini dilaporkan mengalami ketenangan yang menyelubungi berbagai kota besar setelah pemerintah melakukan tindakan keras terhadap demonstrasi yang berlangsung. Tindakan ini berhasil meredam gelombang protes besar yang muncul dalam beberapa pekan terakhir. Namun, ketenangan ini diwarnai oleh penangkapan massal dan ancaman intervensi militer dari Amerika Serikat.
Pada 16 Januari 2026, aparat keamanan Iran kembali melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang, meski pekan ini laporan mengenai potensi serangan AS terhadap Iran telah menurun. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa terdapat penurunan dalam intensitas kekerasan di Iran yang menurutnya berasal dari upaya diplomasi intensif oleh sekutu-sekutu AS, termasuk Arab Saudi dan Qatar.
Meskipun demikian, Gedung Putih memberikan peringatan tegas kepada pemerintah Iran. Juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa mereka mencatat ada sekitar 800 rencana eksekusi yang telah dibatalkan, namun akan ada konsekuensi jika kekerasan kembali meningkat. “Semua opsi tetap di atas meja,” tegasnya.
Protes dimulai pada 28 Desember 2025, sebagai reaksi terhadap inflasi yang tinggi dan kondisi ekonomi yang memburuk akibat sanksi. Meski pemerintah telah memutus akses internet, banyak warga melaporkan bahwa suasana di Teheran terasa sunyi, dengan patroli drone militer yang terus berlangsung.
Kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa ribuan orang telah tewas dalam kerusuhan ini, dengan angka mencapai 2.677 orang, termasuk 2.478 demonstran dan 163 anggota aparat pemerintah. Meskipun kepolisian Iran mengklaim situasi telah kembali tenang, keberadaan aparat bersenjata menunjukkan ketegangan yang masih ada di lapangan.