Golovinamari.com – Mantan menteri pemerintahan Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, mengingatkan Iran agar tidak mengulangi kesalahan Libya, yang merugi akibat terlalu mempercayai negara-negara Barat. Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan delegasi dari Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada hari Sabtu. Pertemuan ini menjadi dialog langsung pertama setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Wakil Presiden AS, J.D. Vance, akan memimpin tim perunding Amerika, di samping utusan khusus Steve Witkoff dan menantu mantan Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Sementara itu, meskipun Teheran belum mengumumkan nama-nama yang akan terlibat, kabar yang beredar menyebutkan bahwa ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bisa saja memimpin delegasi mereka.
Dalam wawancara dengan RT, Ibrahim, yang merupakan mantan anggota kabinet Gaddafi, menegaskan bahwa kedua pihak akan masuk ke meja perundingan dengan pemahaman yang berbeda mengenai konsep perdamaian dan konflik. Dia menegaskan pentingnya kecermatan dalam pendekatan diplomatik, mengingat sejarah agresi yang dialami Libya yang berakibat fatal bagi negara tersebut.
Perundingan ini diharapkan dapat membuka dialog yang konstruktif dan menghindari kesalahan yang sama dari pengalaman Libya, terutama dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks. Dengan latar belakang yang beragam dan kepentingan yang berlawanan, pertemuan ini menjadi krusial untuk masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat serta stabilitas kawasan.