Site icon golovinamari.com

IHSG Turun Menyusul Ekspektasi Kebijakan Moneter Ketat

[original_title]

Golovinamari.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Senin mengalami penurunan signifikan di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. IHSG dibuka lebih rendah, kehilangan 21,76 poin atau 0,30 persen, dengan posisi akhir di 7.115,45. Indeks saham unggulan, LQ45, juga mengalami kemunduran, turun 3,38 poin atau 0,46 persen menjadi 724,95.

Pakar ekonomi Liza Camelia Suryanata dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menyarankan para investor untuk bersikap “wait and see” dan lebih banyak menyimpan cash. Saran ini disampaikan sebagai antisipasi terhadap potensi gejolak yang mungkin terjadi selama pasar saham Indonesia tutup akibat libur lebaran.

Fokus pasar sedang tertuju pada pertemuan FOMC The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Maret mendatang. Dalam pertemuan ini, akan dibahas proyeksi ekonomi terbaru dan kemungkinan arah perubahan suku bunga, mengingat lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik Timur Tengah.

Data ekonomi dari Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat dengan inflasi yang tinggi. PDB kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen, sedangkan inflasi inti mencatat kenaikan 3,1 persen, jauh melampaui target The Fed sebesar 2 persen. Hal ini berdampak pada ekspektasi bahwa suku bunga tinggi mungkin akan dipertahankan lebih lama.

Sementara itu, perkembangan konflik di Timur Tengah juga terus dipantau, terkait potensi serangan terhadap fasilitas energi dan jalur pelayaran Selat Hormuz. Keterlibatan AS dan China dalam diskusi perdagangan di Paris menambah lapisan kompleksitas pada keadaan global yang tidak stabil.

Menyusul penurunan IHSG, pasar saham Eropa dan AS juga menunjukkan tren negatif. Di Asia, bursa saham menunjukkan pergerakan beragam, dengan beberapa indeks mengalami penguatan sembari yang lainnya melemah.

Exit mobile version