Site icon golovinamari.com

IESR Sebut Insentif Motor Listrik Sebesar Rp3 Juta Terlalu Rendah

[original_title]

Golovinamari.com – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai pemberian insentif pemerintah sebesar Rp3 juta untuk motor listrik dianggap kurang efektif dalam mendorong transisi ke kendaraan listrik di Indonesia. Direktur Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menyatakan bahwa meskipun langkah ini tepat, besaran insentif perlu ditinjau ulang untuk mencapai dampak yang lebih signifikan dalam jangka panjang.

Saat ini, pemerintah telah menetapkan anggaran total Rp3 triliun untuk memfasilitasi 1 juta unit motor listrik produksi dalam negeri. Namun, Deon menekankan bahwa insentif yang terlalu kecil berisiko gagal menarik minat konsumen dan tidak mengatasi kesenjangan harga antara motor berbahan bakar fosil dan motor listrik. IESR merekomendasikan agar besaran insentif, jika ditingkatkan menjadi Rp5 juta per unit dan dikombinasikan dengan insentif lainnya, bisa meningkatkan adopsi motor listrik hingga 810 ribu unit pada tahun 2030.

Peralihan dari motor berbahan bakar minyak ke listrik tidak hanya menguntungkan konsumen dengan biaya operasional yang lebih rendah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pemerintah. Satu unit motor listrik dapat menghasilkan manfaat sekitar Rp5,6 juta selama sepuluh tahun, dan ketika mempertimbangkan penghematan devisa serta pengurangan polusi, total manfaat bisa mencapai Rp28 juta per kendaraan.

Para ahli juga menyoroti perlunya pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendukung di sekitar kendaraan listrik, termasuk infrastruktur pengisian. Insentif tidak hanya dipandang sebagai subsidi pembelian, tetapi sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung lingkungan.

Exit mobile version