Golovinamari.com – Kasus dugong lokal bernama Miracle yang tinggal di Teluk Tang Khen, Thailand, menggambarkan kondisi kritis yang dihadapi spesies ini. Miracle, satu-satunya dugong yang tersisa di kawasan tersebut, menjadi perhatian Theerasak “Pop” Saksritawee yang telah memantau kehidupannya selama 15 bulan. Sebelumnya, Teluk Tang Khen merupakan rumah bagi 13 dugong, namun kini hanya Miracle yang bertahan setelah kematian Jingjok, pasangan setianya.
Krisis populasi dugong di kawasan Indo-Pasifik semakin mendalam, di mana mereka kini terancam punah akibat hilangnya habitat dan meningkatnya kematian. Data menunjukkan double angka dugong terdampar di Thailand dari 20 kasus menjadi 42 per tahun antara 2023-2024. Petch Manopawitr, seorang ekolog, memperkirakan bahwa setengah dari populasi yang ada telah hilang.
Kemerosotan padang lamun yang merupakan sumber makanan utama dugong menjadi faktor utama. Menurut ahli dugong global, Helene Marsh, dugong dewasa memerlukan 40 hingga 60 kg lamun setiap harinya untuk bertahan hidup. Selain itu, migrasi dugong ke Phuket juga memperburuk keadaan dengan risiko tabrakan kapal dan polusi konstruksi yang merusak habitat.
Walaupun pemerintah berupaya menanam kembali lamun, langkah tersebut dinilai belum memenuhi kebutuhan yang besar. Masyarakat lokal seperti Pop dan Manee Sanae, pemilik kedai roti, berinisiatif menjaga keberadaan Miracle melalui komunitas daring, bertindak cepat untuk melindunginya dari risiko. Mereka menganggap Miracle lebih dari sekadar satwa—ia merupakan bagian dari identitas komunitas yang harus diselamatkan dari ancaman kepunahan.