Golovinamari.com – Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menuding Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak mampu membayar tentara dan sekutunya akibat sanksi yang diberlakukan. Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, mengungkapkan bahwa kombinasi serangan militer dan blokade di wilayah selatan Iran telah memberikan dampak serius terhadap kondisi keuangan negara tersebut.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa AS telah menghalangi ekspor minyak mentah Iran, yang diperkirakan merugikan negara tersebut hingga USD 25 miliar, serta membekukan aset mata uang kripto senilai sekitar USD 350 juta. Sebagai akibatnya, IRGC mengalami kesulitan dalam membayar pasukannya, dan kelompok-kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran juga dilaporkan terpaksa menunda pembayaran untuk mengalihkan dana ke IRGC.
Michael Knights, kepala riset di firma intelijen Horizon Engage, menjelaskan bahwa Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman juga mengalami masalah keuangan. Ekonomi yang mendukung kedua grup ini dalam kondisi buruk, sehingga mereka masih bergantung pada bantuan dari Iran yang mencakup dana dan bahan bakar.
Meskipun menghadapi tekanan, otoritas Iran menegaskan bahwa negara tersebut masih memiliki strategi untuk bertahan. Iran tetap berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada sekutunya dan menyebut tuduhan AS sebagai bagian dari konflik yang lebih besar dengan tujuan politik. Strategi yang diadopsi Iran termasuk memanfaatkan kegiatan ekspor-impor dan memperkuat jaringan dukungan bagi milisi di kawasan yang melawan pengaruh AS dan Israel.
Dalam konteks ini, penting untuk menilai bagaimana Iran dapat beradaptasi dan merespon tantangan yang ada, meskipun situasi keuangan dan militer terlihat semakin menekan.