Golovinamari.com – Bulan Muharram memberikan kesempatan bagi semua umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah, termasuk bagi wanita yang sedang mengalami haid atau nifas. Meskipun terhalang menjalani beberapa ibadah fisik, terdapat amalan spiritual yang tetap dapat dilakukan, yaitu memberikan ridha terhadap ketetapan Allah.
Terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan pertama tahun Hijriah ini. Praktik tersebut meliputi memperbanyak puasa sunnah, terutama pada hari ‘Asyura dan Tasu’a yang jatuh pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Selain itu, bersedekah, termasuk membantu anak-anak yatim, merupakan bentuk amal yang sangat disukai Allah, karena setiap amal saleh akan dilipatgandakan pahalanya di bulan ini.
Dalam konteks ini, Ustadz Ammi Nur Baits menekankan pentingnya sikap sabar dan penerimaan terhadap ketentuan Allah ketika seorang wanita tidak dapat menjalankan ibadah seperti biasanya. Ketika perasaan sedih muncul karena tidak bisa beribadah, sikap ridha dan sabar dianggap sebagai amal positif yang akan dihargai oleh Allah. Ustadz menyampaikan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal seseorang yang bersabar dan menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada.
Dalam riwayat Nabi Muhammad SAW, terdapat contoh ketika istri beliau, Aisyah, merasa sedih karena tidak bisa melaksanakan Umrah ketika mengalami haid. Hal ini menggambarkan bahwa perasaan sedih tersebut adalah bagian dari situasi yang dihadapi oleh banyak wanita Muslim.
Melalui pendekatan amalan-amalan ini, wanita yang sedang haid atau nifas tetap memiliki peluang untuk mendapatkan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah selama bulan penuh berkah ini.